Dari Pojok Rumah Menuju Pascasarjana

Dari Pojok Rumah Menuju Pascasarjana

Suatu sore saya dikirimi NIM oleh ketua kelas saya. Ketika melihat deretan angka dan nama saya (berdasarkan alfabetis nama lengkap saya berada di urutan ke 26 dari 35 mahasiswa Pascasarjana program Matrikulasi Filsafat) rasa-rasanya seperti masih bermimpi, meski sudah memasuki pekan
kesekian perkuliahan dan isi kepala saya tidak kemana-mana, bingung luar biasa (gak paham blass) dengan semua materi yang diajarkan.


Siapa sangka saya yang ketika menginjakkan kaki di bangku SMP kemudian harus vakum panjang karena kondisi kedisabilitasan saya dan keluarga memilih fokus di berbagai jenis metode penyembuhan saya baik medis dan non medis sehingga pendidikan saya terhenti. Saya setiap hari hanya melihat dengan sedih teman-teman angkatan saya yang berangkat ke sekolah, sementara saya bahkan tidak tahu, kapan dan bagaimana saya bisa kembali bersekolah. Berat sekali, melihat adik-adik tingkat sudah jauh melewati saya. Perkembangan pendidikan saya terhenti dan saya tahu
bahwa saya tidak mungkin melanjutkannya.


Saya mengisi waktu luang lebih ke self therapy, membaca, menggambar, main musik (sebelum degenerasi otot terjadi pada tangan saya), menulis cerita, berteman dengan anak-anak balita (saya mengajari mereka menggambar dan menjadi pendongeng), berdoa (yang ini saya tidak tahu sama sekali kepada siapa keinginan-keinginan dalam doa itu saya tujukan) saya merasa eksistensi pencipta seperti tergambar dalam biblika tidak berperan.

Saya kehilangan karena saya tidak tahu dan apatis mencari tahu, namun saya tetap mendaraskan harapan tersebut kepada entah tanpa henti.
Si entah ini dengan segala caranya menunjukkan diri, meski kadang saya pikir apapun hasil yang saya peroleh adalah usaha saya sendiri bukan peranan entah ini. Pelan-pelan saya keluar dan melanjutkan
segala yang pernah terhenti, rasanya sangat jauh terlambat tapi saya memaksakan diri untuk maju tanpa lagi menoleh ke belakang dan mundur.


Beberapa kali stagnan dan merasa keruntuhan yang luar biasa atas hal-hal yang di luar dugaan. Saya kira si entah pun sudah tidak mau bermain-main atas perjalanan saya yang rumit itu. Saya tetap bangkit dan melanjutkan apa saja sebisanya, se-ada-nya apa yang dimiliki dan diberikan semesta.


Hingga saya tiba di sebagian cerita ini. Saya, boleh bekerja sambil bersekolah. Hal yang dulu bahkan tidak terdeteksi dari titik fiksasi saya. Dengan jenjang karir di lembaga negara tertinggi dan jenjang pendidikan di sebuah institut bergengsi, saya tetap menjadi anak kecil yang terus bermetamorfosis dengan usaha dan kebaikan yang diberikan si entah.


Saya tahu bahwa resiko dan benturan akan menjadi makanan yang wajib saya kunyah dan telan ketika memutuskan melakukan hal yang besar untuk ukuran penyandang disabilitas dengan kondisi yang saya miliki. Saya hanya mampu bekerja menggunakan dua jempol tangan. Ini adalah hal terbaik yang saya miliki. Bagi saya tidak perlu memiliki tubuh yang utuh apabila masih ada bagiannya yang dapat diberdayakan. Jika hanya memiliki sepasang telinga maka jadikan ia sebagai perkakas terbaik
kita yang bersedia mendengarkan dan menampung kesukaran sesama.

-Felice Keraf-

Tinggalkan Balasan