Dari Pojok Rumah Menuju Abdi Negara

Dari Pojok Rumah Menuju Abdi Negara

Kepada kamu yang kelak mungkin kutemui di peta tak bernama. 

Hai Aku Felicia, punya sepasang mata yang konon selegam black diamond. Aku berpikiran jernih dan  bening penuh pertimbangan. Kulitku cokelat muda. Banyak orang memujiku memiliki paras  menawan.  

Perlu ku beritahu hal penting padamu. Aku seorang tuna daksa dengan kasus yang menurut dokter  bernama DMP (Duchenne Muscular Progresif). Kemunduran kondisiku ini sejak aku di kelas 3 SD.  Perlahan demi perlahan aku kehilangan kekuatan kakiku. Yang dulunya Ia mampu menopang bobot  tubuhku pelan-pelan raib tanpa persetujuanku. Aku yang penuh semangat mulai bermuram durja  setelah kedua kakiku lunglai menggantung di atas kursi roda kelas 1 SMP. Aku tak mampu berlarian  kesana kemari mengejar kupu-kupu, menari ala telenovela bahkan memanjat pohon. Aku tidak  punya sahabat sejak saat itu kecuali pojok rumah penuh buku bacaan dan segudang nestapa mengapa takdir sebegitu tega memilihku. 

Enam tahun lamanya, aku hanya bisa mengintip rekan sekolahku yang berangkat dan pulang sekolah  di halaman rumahku dari pojok persembunyianku sambil membayangkan diriku berada diantara  gerombolan mereka.  

Enam tahun lamanya kekosongan jiwa ragaku ku isi dengan pelbagai kegiatan remeh. Berdoa kepada  Tuhan yang diajarkan agamaku, bernyanyi dalam hati karena jika aku bernyanyi lebih keras, Ibuku  akan menangis di belakangku. Ratusan buku ku santap, menggambar menggunakan kuas ayahku dan  bermain piano milik sahabat ayah.  

Jangan kau tanyakan seberapa lelah aku. Aku tak mampu menggambarkan itu padamu. Aku merasa  melewatkan fase remajaku secara sia-sia. Aku tak punya rekan kencan nyata. Perlu ku tegaskan,  masa remajaku waktu itu aku hidup di generasi yang belum mengenal media sosial.  

Saat-saat kritis jiwaku adalah saat hingar bingar pesta dan bunyi musik dansa ku dengar dikejauhan.  Dibanding mengalami kesesakan akibat dorongan remajaku, aku lebih ingin Tuhan sebaiknya segera  tiba mengambil jiwa ragaku saat itu. Aku hidup diantara harapan berumur panjang dan serapah  kepada Tuhan.  

Enam tahun kulewatkan dengan aneka penerimaan juga penolakan dalam dan luar diriku. Aku kerap  bertanya apa yang akan terjadi selanjutnya jika aku bersedia mengembangkan potensiku? Meski  menuai banyak penolakan, aku tetap keukeuh akhirnya, aku memutuskan melanjutkan pendidikan.  Untuk itulah aku harus merantau jauh dari rumahku. 

Maka aku mulai menyiapkan banyak hal untuk keperluan merantau beryard-yard jauhnya. Rumah  hanya menjanjikan kehidupan psikisku lalu jiwa mudaku yang terus menuntut pengembangan  potensi bagaimana? Berbekal sejengkal pengetahuan tentang salah satu kota tujuan rantauku, aku  tanpa restu Ibu berangkat bersama ayahku.  

Lembaran baru hidupku kubuka di panti asuhan anak cacat. Suasana baru itu lantas tidak menjadikan  segala sesuatu berubah menjadi lebih baik. Aku harus melewatinya dengan berbagai hal yang  menggerus kekuatan jiwa ragaku. Aku berhadapan dengan realitas bahwa hidup baruku itu penuh  dengan ribuan aturan yang tidak kusukai dan para perawat dengan berbagai karakter. Aku menjalani  rutinitasku sebagai anak berkebutuhan khusus dan siswi SMP hingga SMK di panti asuhan itu enam  tahun lamanya. Disana aku menemukan tempat pelarian dari segala aturan yang sangatlah ketat dan  para perawat itu dengan belajar membabi buta di sekolah. Tiap saat aku marah dan  menenggelamkan diri dalam buku pelajaran apapun. Aku sungguh menyiksa otakku. Saking tertekan  pernah sekali aku nyaris menelan puluhan obatku di hadapan temanku seorang tuna rungu wicara di  kamar mandi sekolah kami. Tindakanku itu dapat dicegah olehnya.  

Meski belajar membabi buta tetap saja aku lulus dengan nilai pas-pasan di SMP maupun SMK.  Berbekal dengan nilai itu aku mencoba mengikuti ujian masuk di dua perguruan tinggi negeri dan  satu perguruan tinggi swasta di kota perantauanku itu. Ini bukan berarti semangat hidupku telah  pulih, aku hanya ingin menghabiskan waktu sia-siaku dengan berstatus sebagai seorang akademis.  Selera menghukum Tuhan sungguh mengejutkan. Aku lolos seleksi masuk di tiga perguruan tinggi  ternama. Karena berbagai pertimbangan orangtua, aku masuk di salah satu perguruan tinggi negeri  yang konon akreditasinya bagus saat itu. Maka aku mulai menyandang status mahasiswa sejak saat  itu.  

Tahun-tahun pertama kuliah sungguh tidak mudah! Aku satu-satunya mahasiswa difabel disana.  Sementara aksesibilitas untuk kursi roda masih minim. Aku harus menguatkan jantungku tiap kali  berhadapan dengan raut wajah manusia yang kumintai tolong untuk mengangkat aku beserta kursi  rodaku menaiki anak tangga. Kesukaran tidak sampai disitu. Aku harus menebalkan telinga tiap kali  tidak mendapat kelompok diskusi atau kelompok tugas semacam makalah atau juga kelompok  praktikum. Teman-teman seakan menjauhkan tubuhnya sejauh-jauhnya dariku tiap kali mendapat  tugas demikian. 

Aku sungguh mengutuk siapa saja yang sudah menemukan dan menerapkan strategi pembelajaran  demikian. Aku tidak memiliki sahabat dan itu semakin menyulitkan. Kepercayaan diriku sungguh  rendah. Aku membenci penampilanku yang menurutku sangat buruk. 

Aku melewati samua itu hingga berada di semester dua ketika melihat IPku mencapai 3 koma sekian.  Aku memberanikan diri melihat sisi potensi dengan mengikut segenap unit kegiatan kampus yang  ditawarkan dalam setiap selebaran yang disebarkan di pojok kampus. Aku tahu bahwa untuk tiba  disana, aku harus menguatkan tali kekang “penerimaan kondisiku.” Aku mulai berjuang sekuat  tenaga mengatasi perasaan rendah diriku. Aku terus menghibur hatiku dengan mengganggap bahwa  aku hanya tidak beruntung secara fisik. Isi kepalaku tidak cacat. Usahaku itu tidak sia-sia. Setiap 

UKM yang aku ikuti didominasi oleh orang-orang yang berpikiran terbuka. Aku diterima sebagaimana  adanya diriku.  

Kesempatan itu ku gunakan sebaik-baiknya untuk mengaktualisasikan diriku. Aku berhasil. Orang orang disekitarku memujaku sebagai inspirator mereka.  

Kemunduran kondisiku sudah mencapai bagian tangan di semester akhir perkuliahanku, aku tidak  mundur. Dengan berbekal keinginan meraih gelar sarjana aku nekat mengerjakan semua tugas  kampus bahkan skripsiku menggunakan media smartphone. Hal ini tidak mudah, karena porsi  pengerjaan menjadi tiga kali lipat. Hampir seluruh tangan bahkan tubuhku tak bisa diajak kompromi.  Jika aku salah menempatkan posisi tubuhku, maka aku tak bisa menggerakkan tubuh seinci bahkan  kerap jatuh. Jari tanganku untuk mengerjakan sesuatu hanya bagian jempol dan telunjuk. Semuanya  menjadi lebih berat dan melelahkan. Namun, aku tidak ingin berhenti sampai di tahap ini saja,  semangat membuat orang lain merasa bersyukur atas hidupnya terus merajalela di dalam diriku  hingga aku lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana. 

Selama kurang lebih satu setengah tahun usai lulus dari sarjana aku bergiat di project sosial bernama  Miracle Studio (emStudio) yang kudirikan bersama sepupuku yang masih kelas 1 SMP dan  keponakanku yang masih di bangku TK. Konsep studio kami bergerak di bidang studio literasi  (membaca, menulis), studio art meliputi seni lukis, patung, tari, teater, craft, fotografi, dan musik.  Studio science, studio farming, studio chef. Aku ingin menerapkan banyak pengetahuan sekaligus  membentuk karakter pada anak usia dini hingga dewasa. Kepada anak usia dini hingga remaja, aku  ingin melihat minat bakat mereka dan membimbing mereka dalam mengembangkan potensi  mereka. Sedangkan pada orang dewasa, aku ingin kegiatan itu mendukung produktivitas mereka  sehingga dengan demikian ekonomi mereka dapat ditingkatkan. Kegiatan ini tentunya diawali  dengan langkah tertatih-tatih namun aku terus menyulut semangat anggota emStudioku untuk terus  bergiat menghidupkan kegiatan ini. 

Siapa sangka keterbatasan membawaku terbang sangat jauh menembus banyak pembatas yang  diciptakan oleh tangan-tangan tak terlihat. Tepat dua tahun menyandang gelar sarjana aku lulus  seleksi PNS melalui formasi disabilitas dan kemudian bekerja di sebuah instansi pemerintah yang  bergengsi.  

Satu hal yang terus kugaungkan, aku tidak harus menuntut orang lain berubah untukku. Akulah yang  harus berubah untuk orang lain. 

Aku hanya ingin kau mencermati betapa untuk kehidupanku yang begitu sukar sudah mampu  kulewati, aku tidak menunggu dicintai, aku sudah menunjukkan bahwa aku mampu mencintai diriku  sendiri.  

-Felice Keraf-

Tinggalkan Balasan