Rindunya Kita pada Lagu Anak Indonesia

Rindunya Kita pada Lagu Anak Indonesia

Yo prokonco dholanan neng njobo. Padhang bulan, bulane koyo rino. Rembulane sing ngawe-awe. Ngelingake ojo podho turu sore

Lagu Padhang Bulan di atas membuat kita merindukan lagu-lagu anak Indonesia yang kerap dinyanyikan anak-anak jaman dulu sebelum teknologi dan komunikasi berkembang sepesat saat ini. Dulu, lagu itu biasa dinyanyikan anak-anak di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta dan sekitarnya saat bulan purnama tiba. Tak hanya bernyanyi, melalui lagu-lagu tradisional tersebut, anak-anak juga belajar, bermain, bersosialisasi, dan memupuk jiwa toleransi.

“Sudah lama kita tidak mendengar lagu kereta api atau lagu yang lain, lagu yang lucu, yang merindukan. Saya pun rindu lagu Naik Kereta Api. Tapi sekarang tidak ada lagi lagu-lagu itu,” ungkap Budi Karya, Menteri Perhubungan periode 2018-2023 dalam video singkat bertajuk Lomba Kreasi Lagu Anak Indonesia Inklusif.

https://www.youtube.com/watch?v=7WW7OlqKjDc
Youtube: Inklusi Hebat

Lagu anak Indonesia yang riang gembira

Lagu anak Indonesia memiliki melodi dan lirik yang riang gembira, bersemangat, dan sarat pesan yang mendidik. Misalnya saja lagu Naik Kereta Api. Saat menyanyikannya, anak-anak juga belajar bersosialisasi dengan berbaris bersama teman-temannya menirukan kereta api. Tentu saja, saat menyanyikannya tidak lepas dari senyum dan canda tawa yang membuat anak-anak merasa bahagia.

Kenangan manis bernyanyi lagu anak

Kenangan manis bernyanyi lagu anak pada masa kecil akan selalu terbawa hingga kita dewasa nanti. Banyak orang dewasa yang bahagia mengenang masa kecil mereka yang penuh canda tawa saat bernyanyi lagu-lagu anak Indonesia bersama teman-teman dan keluarganya.

Mbak Alissa Wahid, putri presiden ke-4 Indonesia, KH Gus Dur, memiliki kenangan manis tentang bernyanyi saat masih anak-anak yang membekas hingga sekarang. Bernyanyi bagi Mbak Alissa adalah media yang ampuh untuk belajar tentang Indonesia dan dunia serta masyarakat Indonesia.

“Waktu saya kecil dulu, salah satu acara TV yang paling saya tunggu adalah acara “Ayo Menyanyi” dimana kita belajar lagu-lagu baru tentang anak-anak Indonesia dan dunia atau kehidupan masyarakat Indonesia,” kata Mbak Alissa yang juga Sekretaris Pengurus Pusat Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) ini.

Kreasi Lomba Lagu Anak Indonesia Inklusi

Sayangnya, derasnya arus globalisasi, teknologi dan komunikasi khususnya media sosial seperti sekarang ini membuat sangat sedikit anak-anak kita yang menyanyikan bahkan sekedar mengenal lagu-lagu anak Indonesia. Mayoritas anak lebih kerap menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang mereka tonton di Youtube maupun jejaring sosial lainnya. Mereka begitu fasih menyanyikan lagu-lagu orang dewasa bertemakan cinta, cemburu, dan tema lain yang sebenarnya tidak untuk dikonsumsi di usia mereka.

Keprihatinan tersebut menggugah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (KemenPPA) bersama Forum Alumni Nusantara dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk mengajak masyarakat Indonesia khususnya anak-anak berkarya dalam gelaran “Kreasi Lagu Anak Indonesia Inklusi”. Lomba ini berlangsung pada tanggal 1 hingga 31 Oktober 2020.

Mengusung tema “Sayangi Sesama Bagaimanapun Dia”, harapannya, gelaran ini dapat menumbuhkan toleransi anak-anak Indonesia untuk menerima perbedaan dalam pertemanan tanpa diskriminasi. Ada 5 sub tema yang bisa dipilih, yakni: Belajar dan Bermain Bersama, Menyayangi Tanpa Batas, Kesempatan Milik Semua Anak, Stop Bullying dan Stigma, Mari Berkarya, dan Aku, Kamu, Kita Semua Bisa.

Anak-anak di pelosok Sumba Barat Daya. Source: Traveliburan/ April Sasanti
Anak-anak di pelosok Sumba Barat Daya. Source: Traveliburan/ April Sasanti

“Sekarang ini sudah saatnya kita ciptakan lagi lagu-lagu yang membawa semangat keindonesiaan, yang membawa semangat saling menyayangi, saling mencintai seluruh warga bangsa tanpa terkecuali. Mari kita terus menyanyi demi Indonesia yang lebih baik,” ajak Mbak Alissa Wahid melalui video “Kreasi Lagu Anak Indonesia Inklusif.”

(Apriliana Sasanti)

Tinggalkan Balasan