Karina, Low Vision yang Pantang Menyerah
Karina, si low vision pantang menyerah yang kini berhasil menembus stasiun TV swasta nasional sebagai desainer grafis.

Karina, Low Vision yang Pantang Menyerah

Teman-teman, tahukah kalian tentang low vision? Low vision berbeda dengan buta/tunanetra. Low vision adalah gangguan penglihatan yang tidak dapat dipulihkan atau diperbaiki, baik oleh operasi, lensa kontak, maupun kacamata biasa. Misalnya saja, ketika difabel low vision melihat sebuah pemandangan, penglihatan mereka akan tampak seperti mengintip di lubang kunci atau tertutup kabut putih atau bahkan ada bercak hitam yang tak beraturan.

Tak ada yang tak mungkin. Demikian halnya dengan menjadi low vision bukan berarti tak bisa meraih cita-cita dan harapan. Simak kisah inspiratif Karina, teman difabel dengan low vision berikut ini.

Karina dan komunitas low vision

Namanya Karina. Seorang teman difabel low vision yang tak menyerah dengan kondisinya untuk menggapai impiannya. Beragam tantangan dihadapinya sejak masih sekolah hingga kini dia bergabung menjadi staf media televisi nasional, INews. Bersama temannya, Karina bahkan mendirikan sebuah komunitas low vision bernama KomLoving di Jakarta.

Dengan semangat pantang menyerah, Karina berhasil bekerja di salah satu stasiun TV swasta nasional.

“Menjadi seorang low vision bukan berarti hanya menjadi manusia yang seolah tak memiliki harapan ke depan. Kami juga ingin maju. Itu kenapa kami mendirikan komunitas low vision ini.”

Karina

Tentu saja bukan hal mudah bagi Karina dan kawan-kawannya mendirikan komunitas ini. Ketika merintis komunitas ini pada 20 Juli 2018 lalu, beragam perundungan telah diterimanya dan kawan-kawannya. Namun mereka tak gentar. Bagi mereka, komunitas ini menjadi wadah bagi sesama low vision untuk saling berbagi ide, pengalaman, dan saling memotivasi untuk maju.

“Di Jogja juga ada yayasan low vision, hanya kurang aktif. Makanya, mau tak mau saya dan teman-teman jalan sendiri (mendirikan komunitas low vision). Kena bully (perundungan) ya dinikmati saja, anggap ini proses. Saya hanya ingin orang-orang seperti saya tidak pasrah begitu saja dengan keadaan terus seolah minta dikasihani. Saya dan kawan-kawan ingin menunjukkan apa yang kita bisa dengan saling berbagi ilmu dan lain-lain,” kenangnya.

Pernah down hingga ada niat bunuh diri

Bagi sebagian orang, masa sekolah bukanlah masa yang menyenangkan. Demikian pula dengan Karina. Menjadi siswa di sekolah umum merupakan tantangan besar baginya.

Keterbatasan penglihatannya membuat Karina kerap menghadapi kendala saat duduk di bangku sekolah. Mulai dari minimnya akses dan fasilitas untuk low vision, perundungan oleh teman-temannya, hingga ketidakpercayaan gurunya akan kemampuannya. Bahkan saat duduk di kelas 2 SMK, semangatnya pernah down (terpuruk) hingga ada niat bunuh diri.

“Dulu saya sempet down banget yang sampai sudah ada niatan pengen bunuh diri. (Yang membuat down) ada salah satunya teman sekelas, tapi ada lagi yang lebih tinggi kedudukannya, yakni salah satu guru di SMK. Saat itu saya benar-benar meras tidak berguna,” ungkap Karina.

Karina menceritakan, saat duduk di kelas 2 SMK, pernah suatu hari dia dipanggil ke kantor guru. “Harusnya waktu itu saya nggak terima kamu di sini,” kata guru yang memanggilnya itu. Syok dan sedih membuat Karina sampai tidak bisa menangis saat itu. Harapannya untuk menjadi guru seketika kandas karena perlakuan gurunya yang menyakitkan padanya. Ironis memang.

“Yang bikin aku sedih karena dia guru dan selama ini aku pengen banget jadi guru. Harapanku punah begitu saja karena beliau,“ tegas Karina. Pengalaman menyakitkan itu justru membuat tekad Karina semakin kuat untuk maju meraih impiannya. Naik ke kelas 3, diapun bertekad untuk membuktikan ke guru dan teman-temannya bahwa dia bisa lebih baik dari mereka. Dia bersyukur orangtua dan keluarganya selalu mendukungnya untuk maju.

Pengalaman unik bersama sesama teman difabel

Meski kerap menemui kendala di sekolahnya, bukan berarti Karina tak memiliki teman yang membuatnya merasa diterima. Dia punya kenangan unik bersama sesama teman difabel Tuli yang pintar melukis. Bagi Karina, komunikasi mereka terasa lucu namun menyenangkan.

“Dulu pertama kami berkomunikasi, rasanya lucu deh. Ada saja miskomunikasi. Setiap saya ngomong, dia susah denger, dan tiap dia komunikasi pakai bahasa isyarat, saya yang susah melihatnya, “ kenang Karina yang hingga kini masih menjalin komunikasi dengan adik kelasnya semasa SMK dulu.

Dengan kendala komunikasi keduanya, alhasil telepon seluler pun menjadi pilihan utama untuk berkomunikasi. Karina sengaja mengatur layar telepon selulernya (HP) dengan pengaturan tulisan yang lebih besar, sedangkan temannya mengatur pengaturan suara menjadi tulisan.

“Jadi kami komunikasi pakai tulisan di HP dan kebetulan layar HP saya sudah saya setting pembesarannya. Jadi dulu kami selalu mengirim SMS atau menulis di note setiap mau komunikasi,“ papar Karina.

Bekerja di Media Televisi

Semangat pantang menyerah Karina membuatnya mampu mengatasi setiap hambatan dalam hidupnya. Selepas kuliah di ISI Yogyakarta, dia pun bekerja di beberapa lembaga swasta di Bali dan Jakarta. Diremehin? Masih. Namun Karina bertekad untuk membuktikan bahwa menjadi seorang low vision bukan berarti tak bisa bekerja di bidang yang diminati orang-orang non difabel pada umumnya. Dia kini bergabung di perusahaan media televisi nasional, Inews, sebagai Desainer Grafis.

“Sekarang saya bekerja di Inews. Alhamdulillah, orang-orangnya nggak pandang fisik. Yang pentjng kerjaan kelar dan produser puas,” pungkasnya.😁

Keterbatasan penglihatan seperti yang Karina alami bukanlah menjadi alasan seseorang untuk terpuruk dan selalu ingin dikasihani. Seperti Karina, teman low vision pun bisa maju dan meraih cita-citanya asalkan ada semangat dari dalam diri sendiri, dukungan dari keluarga, penerimaan dari teman-teman dan lingkungan sekitarnya.

Semua impian bisa terwujud, asal ada semangat, tekad pantang menyerah, dan usaha yang kuat untuk meraihnya.
(Apriliana Sasanti)

Tinggalkan Balasan